Wisata

Jajaki Heroiknya Pemuda Indonesia Usir Penjajah di Museum Brawijaya

10/03/2018
Sumber: surabaya.panduanwisata.id

Untuk menunjang sektor wisata di Kota Malang yang sedang banyak digandrungi wisatawan lokal dan mancanegara, akomodasi penginapan untuk tempat singgah wisatawan berjejal di kota ini. Banyak varian penginapan yang bisa kamu temui di Malang. Mulai dari hotel berbintang hingga losmen, wisma termasuk homestay murah di Malang. Belakangan ini juga sedang marak dan semakin populer penginapan dengan model guest house.

Jika dibanding hotel, guest house lebih menjamin privasi pengunjung. Tentu, dengan biaya sewa yang sangat murah. Anda akan merasakan kenyamanan sama seperti saat berada di rumah sendiri. Salah satu guest house yang recommended untuk Anda saat ini di Malang adalah Lovender Guest House.

Fasilitas yang disediakan disini cukup lengkap. Ada 12 kamar yang bisa Anda sewa. Masing-masing kamar tersedia TV, dengan ruangan full AC, meja tulis, dan kawasan bebas asap rokok. Ada juga fasilitas olahraga dan rekreasi, ada hot tub, salon dan layanan pijat. Anda juga bisa berenang di kolam renang.

Saat sampai di Malang, anda sudah langsung dimanjakan dengan fasilitas transfer dari dan ke bandara yang disediakan Lovender Guest House. Saat menginap disini, Anda boleh memanfaatkan layanan kamar 24 jam, coffe shop, laundry, bar, dan restoran yang siap memanjakan lidah Anda dengan makanan yang beragam, dan enak-enak.

Lokasinya berada di Jalan Lamongan No. 12 Kota Malang. Dekat dengan kampus Universitas Negeri Malang. Termasuk Gereja Katedral Ijen, Kawasan Ijen Boulevard, Gereja Katedral Malang, dan Museum Brawijaya.

Museum Brawijaya terletak ditengah kota Malang, dekat dengan homestay murah di Malang yang Anda tempati, tepatnya di Jalan Ijen. Museum ini akan mengajak Anda menengok ke puluhan tahun silam, dimana Indonesia sedang digagas menjadi negara merdeka yang berdaulat. Kisah perjuangan para pemuda Indonesia tergambar dengan jelas di museum ini.

Digagas oleh Brigjen TNI (Purn) Soerachman yang menjabat sebagai Pangdam VIII Brawijaya periode 1959-1962, pada akhir masa bhaktinya dia menghendaki pembangunan museum ini pada tahun 1962. Akhirnya, oleh arsitek Kapten Czi Ir. Soemardi pada tahun 1967, Museum Brawijaya mulai dibangun dan rampung setahun kemudian, yang pada 4 Mei 1968 diresmikan.

Setelah melewati pos penjagaan didepan pintu masuk, Anda akan mendapati Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, tak jauh dari Taman Senjata Agne Yastra Loka yang berisi senjata dari masa perang pada tahun 1945.

Di titik itulah, Anda akan mendapati beberapa kendaraan tempur seperti meriam, tank, dan panser, yang dulu dipakai tentara Indonesia kala berjibaku menghalau kolonial. Jika sudah berada di lobi museum, berarti Anda berada ditengah 2 ruang koleksi, yakni Ruang Koleksi 1 dan Ruang Koleksi 2. Dalam ruangan ini, ada 2 relief serta 2 perangkat lambang semua Kodam di Indonesia.

Sedangkan dua relief itu menggambarkan wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit, dengan Perahu Hongi yang akan memberi gambaran bahwa Majapahit dulu memiliki armada tempur laut yang hebat, yang kemudian mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Termasuk Harihara, pahatan yang dibuat Raden Wijaya.

Relief lainnya adalah daerah tugas Pasukan Brawijaya untuk menumpas kekuatan separatis, pasukan perdamaian PBB sampai penumpasan gerombolan perusak keamanan Nusantara.

Masuk dalam Ruangan Koleksi 1, Anda akan menemukan benda-benda militer dari tahun 1945-1949. Ada lukisan seragam PETA, HEIHO, Pamen, Bintara dan prajurit PETA. Termasuk awetan burung merpati yang dipakai sebagai pengantar pesan di daerah komando Ranggolawe, di Lamongan dan Bojonegoro ke Surabaya pada tahun 1946, juga terpajang disana.

Termos air dari tempurung kelapa yang digunakan tentara PETA juga ada di ruangan ini. Termasuk, pedang Samurai yang membuat tentara Jepang sangat gagah saat itu. Samurai itu berhasil direbut TKR di perkebunan Ngrakah.

Ada juga meja dan kursi yang dipakai para delegasi perundingan gencatan senjata antara TKR dan tentara Sekutu pada 29 Oktober 1945 di Surabaya. Indonesia diwakili sang proklamator Bung Karno dan tentara Sekutu di mengutus Brigjen Mallabi dan Mayjen Havtorn.

Ada radio milik Dephub Brawijaya yang dipakai pada tahun 1945-1946, termasuk mata uang kuno yang beredar pada masa itu. Juga, obat-obatan serta peralatan kesehatan milik dr. Harjono yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Krian, Mojokerto tahun 1948.

Pada Ruang Koleksi 2, terdapat peralat yang dipakai Pasukan Brawijaya untuk pembebasan Irian Barat dalam Operasi Trikora tahun 1961. Di ruangan ini juga terdapat jejak operasi Trisula untuk penumpasan komunis tahun 1968 di Blitar Selatan. Termasuk, hasil rampasan dalam operasi Seroja di Timor Timur yang berlangsung pada tahun 1975-1976.

Semua jejak sejarah itu akan semakin meyakinkan Anda bahwa kebhinekaan dan keutuhan NKRI sudah ditanamkan sejak awal bangsa ini ada. Kegagahan para Bunga Bangsa yang rela membayarnya dengan darah, akan semakin memperkuat rasa nasionalisme Anda. Segeralah ajak keluarga terutama anak-anak Anda mengunjungi Museum Brawijaya yang berjarak begitu dekat dari homestay murah di Malang yang Anda tempati.

Author Bio

Andi Nurfauzan

I am Buginese

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply