Wisata

NgeBolang Sehari

07/07/2018

Akhirnya bisa jalan-jalan besama lagi dengan teman-teman kantor setelah sekian purnama :)). Kebetulan juga ada tamu kantor yang datang dan minta didampingi jalan-jalan sambil refresh otak setelah seminggu mereka bergelut dengan pemrograman. Tamunya minta ketempat yang bernuansa “alam” di Bali karena katanya mereka sudah bosan ke pantai tiap berkunjung kesini. Sebelum berangkat kami menyusun strategi perang (halah) dimana saja yang akan dikunjungi dan kami sepakat ke desa Penglipuran, permandian air panas Toya Devasya (tujuan utama) dan setelah itu bebas mau kemana.

Keesokan harinya kami berangkat jam 9 pagi tapi berhubung ada sesuatu dan lain hal, tamunya minta diantar dulu ke kantor Garuda Indonesia untuk reschedule tiket pesawatnya. Setelah semuanya beres kami melanjutkan perjalanan ketempat pertama yaitu Desa Penglipuran. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari bandara kesini yaitu kurang lebih 1jam 30menit tergantung kondisi arus lalulintas. Desa ini merupakan desa tradisional yang masih tertata rapi terletak di Kabupaten Bangli dan menjadi salah satu desa terbaik dan terbersih didunia. Selain itu dibelakang desa ini juga terdapat hutan bambu yang eksotis dan cocok bagi yang suka foto-foto.

Desa Penglipuran, Bali, Indonesia
Desa Penglipuran

Setelah puas menikmati keindahan desa Penglipuran, kami lanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu permandian air panas Toya Devasya yang terletak di daerah Kintamani masih di Kabupaten Bangli. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai disini kalau berangkat dari bandara ke Toya Devasya yaitu kurang lebih 2jam 15menit. sebelum sampai di Toya Devasya, kami sempatkan mampir sejenak menikmati pemandangan gunung Batur dan danau Batur. Oh iya letak Toya Devasya itu tepat dipinggir danau Batur.

Gunung Batur, Danau Batur, Bali, Indonesia
Pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur

Akhirnya sampai juga di Toya Devasya. Tapi pas turun dari mobil kami dapat info dari penjaganya kalau pengunjung lokal dan mancanegara itu dipisah tempatnya (yahhh). Setelah diskusi pendek dan singkat dengan si tamu akhirnya kami putuskan untuk cari tempat lain yang bisa sama-sama karena mereka tidak mau dipisahkan oleh jarak dan waktu (ehmm). Untung ada juga permandian air pas sebelum Toya Devasya persis disamping namanya Batur Natural Hot Spring. Pemandangan disini juga sama bagusnya yaitu kita bisa langsung lihat gunung dan danau Batur sambil berendam di kolam air panas. Biaya masuk disini untuk pengunjung lokal 60K (belum termasuk handuk dan loker) kalau mancanegara 150K (sudah termasuk handuk dan loker). Waktu itu sih pernah kesini biaya untuk lokal itu sudah termasuk juga handuk, loker, sabun, shampoo dan bahkan ada welcome drinknya. Ntah kenapa kali ini kalian berubah :(. Tapi ya sudahlah kami tetap harus menikmatinya :D.

Batur Natural Hot Spring, Bali, Indonesia
Batur Natural Hot Spring

Tujuan berikutnya bebas menentukan mau kemana. Kali ini tamunya yang menentukan kami lanjut ke Tirta Empul karena penasaran. Tapi sebelum lanjut kami mampir dulu makan siang sambil istirahat di Resto Apung yang tempatnya juga tepat berada dipinggir danau Batur. Ya jaraknya sekitar 15menit dari Batur Natural Hot Spring. Disini juga kita disuguhi pemandangan yang luar biasa indah sambil menikmati makan siang yang enak-enak dan segar.

Setelah energi sudah normal kembali seperti sedia kala waktu sebelum berangkat. Perjalanan kami lanjutkan ke Tirta Empul (permandian air suci) yang terletak di Kabupaten Gianyar. Tempat ini biasa digunakan oleh masyarakat setempat maupun pengunjung yang datang untuk sembahyang dan mensucikan diri. Berhubung tamunya tidak jadi mandi maka disini kami hanya keliling sambil foto-foto setelah itu langsung melanjutkan perjalanan pulang karena kasur sama bantal sudah pada kangen berat (padahal tamunya sudah lelah) :)).

Tirta Empul, Bali, Indonesia
Tirta Empul

Cukup sampai disini perjalanan sehari kami di Bali. Oh iya ada pelajaran yang saya dapat dari bulenya yaitu selama perjalanan dia “tidak mau” merorok didalam mobil, dia lebih memilih kalau mau merokok mampir dulu sejenak. Terus setiap kali difoto dia selalu “simpan rokoknya” dulu yang sementara dia nikmati karena dia tidak mau menampilkan hal yang tidak baik untuk ditiru didalam foto. Bahkan bungkus rokok teman saya “diambil” dari saku bajunya trus disimpan pada saat mau foto. Satu kata buat dia “eeeemeeeejiiinggggg”.

Desa Penglipuran, Bali, Indonesia
Namanya Ralph

Author Bio

Andi Nurfauzan

I am Buginese

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply