Apa yang Dibaca Saat Sujud, Ruku’, dan Salam?

Apa yang dibaca saat sujud, ruku’, dan salam?

Apa yang kamu baca saat rukuk, sujud, dan salam? Ada sebagian kawan yang begitu kakunya memahami ibadah. Pokoknya, semuanya harus sesuai dengan apa yang Rasulullah Muhammad Saw. contohkan, dan kita harus konsisten mengikuti ajaran Rasulullah Saw. tersebut. Baginya, hanya ada satu kebenaran, yaitu yang sesuai dengan contoh dari Rasulullah Saw.

Saya tanya, “Apa yang harus kita baca saat kita rukuk dan sujud dalam shalat?” Sebelum dia menjawab, saya sodorkan perbedaan bacaan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Hadis pertama menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca:

“Subhana Rabbiyal A’zim” ketika ruku’ dan “Subhana Rabbiyal A’la” ketika sujud

Hadis ini diriwayatkan oleh Hudzaifah (Sunan Al-Nasa’i, Hadis Nomor 1.036).

Namun, Aisyah meriwayatkan hadis lain (Shahih Muslim, Hadis Nomor 752; Sunan Abu Dawud, Hadis Nomor 738; Sunan Al-Nasa’i, Hadis Nomor 1.038). Dalam hadis ini, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. membaca:

“Subbuhun quddussun rabul malaikati war ruh” baik ketika ruku’ maupun ketika sujud.

Yang menarik, ternyata Aisyah meriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw. membaca lafal lain:

“Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummafighrli” (Shaihih Bukhari, HN 752 dan 3.955).

Kawan tersebut mulai kebingungan setelah saya sodorkan beberapa riwayat tersebut. Yang mana yang sesuai dengan sunah Rasulullah Saw. dan yang mana yang bidah? Beranikah kita bilang Hudzaifah berbohong? Beranikah kita bilang bahwa Aisyah, istri Rasulullah Saw., lupa lafal mana yang sebenarnya dibaca Rasulullah Saw.? Bagaimana mungkin dari satu periwayat (Aisyah) terdapat dua teks yang berbeda? Lantas, di mana konsistensi bacaan Rasulullah Saw.?

Perdebatan akan status hadis-hadis di atas memicu pertanyaan: mengapa Rasulullah Saw. tidak konsisten hanya membaca satu bacaan saat rukuk, sujud, dan salam? Apa mungkin semua bacaan itu benar? Kalau ya, apa berarti kebenaran itu tidak cuma satu, tetapi beraneka ragam? Kalau hanya melihat perbuatannya tanpa memahami maksud dan tujuannya maka beginilah jadinya.

Pada tulisan di atas, saya memang hanya membahas dari beragam riwayat hadis. Kalau ditanya soal mazhab fikih dalam hal ini, jadi panjang lagi nanti bahasannya. Maka dari itu, bagi yang ingin memahami lebih jauh silakan baca pembahasan lainnya dalam buku terbaru saya yang berjudul Ngaji Fikih agar bisa menjadi pengingat kita semua bahwasanya, mungkin sudah waktunya kita mengurangi perdebatan teknis beribadah dan mulai merenungi bagaimana shalat kita lewat gerakan dan bacaan rukuk, sujud, dan salam bisa melesat ke mikraj di sisi-Nya. Konsistensi itu bukan semata pada gerakan dan bacaan, melainkan pada tujuan kita beribadah.

Gus Nadirsyah Hosen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *