Mengapa Kaum Minoritas Sulit Mendapat Rumah Ibadah?

Mengapa Kaum Minoritas Sulit Mendapat
Rumah Ibadah?

Saat mengampu mata kuliah Islamic Law di kampus tempat saya mengajar di Australia, saya bertanya kepada para mahasiswa, “Setujukah Anda kalau ada proposal pembangunan masjid di lingkungan Anda tinggal?” Salah satu mahasiswa menjawab, “Tidak masalah. Namun, tolong jangan didirikan di sebelah rumah saya.” Kelas pun ramai dengan derai tawa.

Apa maksudnya? Setelah saya tanya lebih jauh, itu karena harga tanah di sekitar lokasi rumah ibadah (masjid, gereja, atau yang lain) biasanya jatuh di pasaran. Masalah kebisingan, parkir sembarangan, dan tingkah laku para “pemeluk surga” yang tidak memperhatikan kondisi masyarakat setempat, menjadi alasan mereka. Jadi, ini alasan yang sekuler dan kapitalis untuk menolak proposal rumah ibadah. Hanya, ini nyata dan harus diperhatikan juga keberatan penduduk dengan alasan semacam ini.

Seketika saya jadi tersadar bahwa salah satu persoalan klasik dalam relasi antara agama dan negara adalah masalah izin mendirikan rumah ibadah.

Jika ditelaah lebih jauh, apakah pernyataan polos dari mahasiswa saya ini salah?

Tidak. Saya percaya jika Islam itu rahmatan lil ‘alamin.


Biasanya hanya ada tiga atau empat keluarga Muslim di area sekitar lokasi proposal, lantas masjid berdiri maka ini akan menjadi magnet untuk keluarga Muslim lainnya, yang umumnya imigran itu, pindah ke area sekitar masjid. Setelah itu, terbentuklah komunitas Muslim baru di area itu, dan mulai hadir rumah makan kebab, toko daging halal, setelah beberapa saat mereka akan membangun pula sekolah Islam. Apalagi, masjid di Australia biasanya dibangun oleh komunitas etnik tertentu.

Makanya, yang pindah tidak hanya sekadar Muslim, tetapi juga etnik tertentu yang biasanya mereka tidak mau membaur dengan warga setempat, hanya bergaul dan berinteraksi di komunitas mereka sendiri saja. Begitu seterusnya. Lambat laun penduduk lokal akan merasa terdesak dan jengkel melihat perubahan karakter area mereka, yang semula bersih, teratur, dan tertib. Artinya, ini bukan semata-mata soal anti-Islam atau ketakutan melihat lambang bulan sabit dan bintang di atas bangunan masjid. Masalahnya juga tidak bisa hanya didekati lewat pendekatan legal-formal semata.

Harus ada pemahaman aspek sosial-budaya saat meneropong masalah ini.

Semoga kisah dari Negeri Kanguru ini membawa kita lebih bijak melihat persoalan pendirian rumah ibadah di Tanah Air. Tidak mudah menjadi minoritas. Saya beruntung mengalami kondisi menjadi mayoritas di Indonesia dan menjalani hidup sebagai minoritas di Australia. Minimal saya punya bahan cerita yang berbeda:

Begitulah Kawan, hidup dengan kaya tidaklah dilarang dalam Islam. Selama didapatkan dengan cara yang halal, dipenuhi semua kewajibannya, serta hatinya tidak terikat pada harta.
Temukan juga cerita saya mengenai indahnya ajaran Islam dalam menjawab permasalahan konstekstual melalui solusi tekstual dalam buku terbaru saya yang berjudul Ngaji Fikih.

Gus Nadirsyah Hosen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *