Zuhud: Hidup Sederhana dalam Islam

Zuhud: Hidup Sederhana dalam Islam
Islam bukanlah agama yang identik dengan kemiskinan.
Namun, Islam adalah agama yang mengajarkan kesederhanan.


“Bolehkah kita memperkaya diri?”

Kita sering mendengar cerita para sahabat Rasulullah Saw., yang hidup miskin. Saking miskinnya, mereka menginap di teras masjid. Mereka dijuluki ahl al-shuffah.

Akan tetapi, kita tentu juga pernah mendengar beberapa kisah sahabat Rasulullah yang termasyhur dan kaya. Contohnya, Thalhah yang memiliki perputaran uang 1.000 dinar setiap hari dari usaha di Irak, dan lebih lagi dari Al-Sirrah (Yaman). Dia juga membangun rumah di Kufah, merenovasi rumah di Madinah dengan plester, batu bata, dan kayu berlapis (sesuatu yang sangat mewah saat itu).

Gambaran singkat ini membawa kita harus memahami bahwa pada kenyataannya Islam bukanlah agama yang identik dengan kemiskinan. Tidak sedikit pun kecintaan Rasulullah Saw. kepada sahabatnya Thalhah berkurang hanya karena dirinya bergelimang harta dan tidak mengikuti gaya hidup-Nya yang sederhana dengan tidur beralaskan tikar.

Mengapa demikian?

Ibn Khaldun (1332—1406 M) dalam kitabnya, Al-Muqaddimah, memberi komentar bahwa harta mereka itu didapatkan dengan cara yang halal, berasal dari ganimah dan fai’. Thalhah dan para sahabat Rasulullah Saw. yang dikenal kaya pada kenyataannya tidak pernah berperilaku berlebihan dalam membelanjakan harta mereka. Bahkan, mereka tetap hidup dengan sederhana.

Berikut ini teks asli yang dikutip dari Muqaddimah karya Ibn Khaldun:

‎قال المسعودي في أيام عثمان اقتنى الصحابة الضياع والمال فكان له يوم قتل عند خازنه خمسون ومائة ألف دينار وألف ألف درهم وقيمة ضياعه بوادي القرى وحنين وغيرهما مائتا ألف دينار وخلف إبلا وخيلا كثيرة وبلغ الثمن الواحد من متروك الزبير بعد وفاته خمسين ألف دينار وخلف ألف فرس وألف أمة وكانت غلة طلحة من العراق ألف دينار كل يوم ومن ناحية السراة أكثر من ذلك وكان على مربط عبد الرحمن بن عوف ألف فرس وله ألف بعير وعشرة آلاف من الغنم وبلغ الربع من متروكه بعد وفاته أربعة وثمانين ألفا وخلف زيد بن ثابت من الفضة والذهب ما كان يكسر

بالفؤوس غير ما خلف من الأموال والضياع بمائة ألف دينار وبنى الزبير داره بالبصرة وكذلك بنى بمصر والكوفة والإسكندرية وكذلك بنى طلحة داره بالكوفة وشيد داره بالمدينة وبناها بالجص والأجر والساج وبنى سعد بن أبي وقاص داره بالعقيق ورفع سمكها وأوسع فضاءها وجعل على أعلاها شرفات وبنى المقداد داره بالمدينة وجعلها مجصصة الظاهر والباطن وخلف لعلي بن منبه خمسين ألف دينار وعقارا وغير ذلك ما قيمته ثلاثمائة ألف درهم اه‍ كلام المسعودي فكانت مكاسب القوم كما تراه ولم يكن ذلك منعيا عليهم في دينهم إذ هي أموال حلال لأنها غنائم وفيوء ولم يكن تصرفهم فيها بإسراف إنما كانوا على قصد في أحوالهم كما قلناه

Selain Thalhah, ada beberapa sahabat Rasululullah Saw. yang juga dikenal kaya, dan disebutkan oleh Ibn Khaldun (1332—1406 M) dalam kitabnya, Al- Muqaddimah, mengutip Al-Mas’udi, sejarawan Arab klasik yang wafat pada 956 M:

– Pada saat Sayyidina Utsman, khalifah ketiga, wafat terbunuh, dia memiliki sejumlah properti yang bernilai 200.000 dinar, serta sejumlah unta dan kuda.
– Al-Zubair memiliki 50.000 dinar, 1.000 kuda, dan 1.000 budak. Dia juga membangun rumah di Bashrah, Mesir, Kufah, dan Aleksandria.
– Abdurrahman bin Auf mempunyai 1.000 kuda, 1.000 unta, ribuan kambing, dan seperempat harta warisannya mencapai 84.000 dinar.
– Zaid bin Tsabit memiliki harta warisan emas dan perak yang begitu banyaknya sehingga harus dipecah dengan kapak, selain tanah dan uang 100.000 dinar.
– Sa’ad bin Abi Waqqash membangun rumah dengan batu akik, rumahnya bertingkat, dan luas halamannya.
– Al-Miqdad juga membangun rumah mewah yang diplester di Madinah.


Begitulah Kawan, hidup dengan kaya tidaklah dilarang dalam Islam. Selama didapatkan dengan cara yang halal, dipenuhi semua kewajibannya, serta hatinya tidak terikat pada harta.

Tidaklah dikesankan bahwa kemiskinan adalah ciri orang memeluk Islam atau seolah kita mencibir dan curiga kalau ada orang lain yang hidupnya lebih berkecukupan dari kita. Mungkin kita menjadikan ahl al-shuffah sebagai modal, sementara mereka menjadikan nama-nama sahabat Rasulullah Saw. di atas sebagai contohnya. Semuanya kita sebut dengan radliya Allah ‘anhum. Semua model dari sahabat itu baik-baik saja.

Gus Nadirsyah Hosen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *